Ingin Bugar Maksimal Usai Olahraga? Perhatikan Batas Maksimal Denyut Jantung

24 Mei 2021, 17:40 WIB
Penulis: Any Hidayati
Editor: Doddy Wiratama
Ilustrasi olahraga berjalan kaki dan bersepeda.
Ilustrasi olahraga berjalan kaki dan bersepeda. /Gambar oleh S. Hermann & F. Richter dari Pixabay

  • Kasus meninggalnya pesepeda dalam uji coba JLNT, Minggu (23/5/2021), menjadi alarm pentingnya memahami detak jantung saat berolahraga.
  • Batas maksimal detak jantung ketika olahraga adalah 50-70 persen dari 220 detak jantung per menit dikurangi usia.
  • Batasi durasi olahraga adalah langkah bijak untuk mengurangi risiko yang tidak diinginkan.

SKOR.id - Uji coba JLNT (Jalan Layan Non-Tol) Kampung Melayu-Tanah Abang (Casablanca) pada Minggu (23/5/2021) menghadirkan kisah pilu meninggalnya pesepeda 62 tahun.

Menurut Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Rudy Saptari, pesepeda itu diduga mengalami kelelahan ketika berkendara hingga akhirnya meninggal dunia.

Kondisi ini memunculkan berbagai pertanyaan seputar bagaimana hubungan olahraga dengan kebugaran yang sebenarnya? 

Apakah olahraga akan meningkatkan kesehatan atau justru membahayakan jiwa seseorang?

Dilansir dari detik.com, heart rate atau denyut jantung bisa menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kematian ketika berolahraga.

Menurut dr Michael Triangto, SpKO dari RS Mitra Kemayoran, detak jantung mendiang pesepeda itu sempat mencapai 180 BPM (beat per minute) sebelum meninggal dunia.

Kondisi tersebut memang sangat berisiko untuk seseorang yang telah menginjak usia di atas 60 tahun dan lebih berbahaya lagi untuk orang dengan riwayat penyakit tertentu. 

Dokter Michael Triangto menjelaskan bahwa intensitas berolahraga sebaiknya tidak melebihi denyut jantung maksimal, yakni 50-70 persen dari detak normal.

Lantas bagaimana cara untuk mengetahui denyut jantung maksimal yang aman untuk berolahraga?

"Heart rate maksimal itu adalah 220 BPM dikurangi usia. Kalau orang ini usianya 60 tahun, berarti 220 dikurangi 60. Maka 160 itu 100 persennya dia," ucap dr Michael Triangto.

"Kalau untuk tujuan kesehatan, maksimalnya berapa denyutnya? 220 Dikurangi usia. Nah training zone-nya untuk mencapai tingkat kesehatan lebih baik itu 50-70 persen saja."

Berlari dalam kelompok besar, seperti dalam ilustrasi Philadelphia Marathon ini, tidak dianjurkan dilakukan selama pandemi Covid-19 masih terus memakan korban.
Berlari dalam kelompok besar, seperti dalam ilustrasi Philadelphia Marathon ini, tidak dianjurkan dilakukan selama pandemi Covid-19 masih terus memakan korban. (Twitter/Philadelphia Marathon@Philly_Marathon)

Dokter Michael manambahkan pentingnya untuk menghindarai olahraga secara berlebihan demi mendapatkan tubuh yang sehat.

Batasi durasi dan beban olahraga sesuai dengan kapasitas tubuh diri sendiri menjadi alarm penting agar tidak menimbulkan risiko lebih lanjut.

Menurutnya, anggapan bahwa makin lama berolahraga maka akan makin sehat sepenuhnya keliru.

"Jadi, kalau kita mau berolahraga sehat itu harus jelas, 30 menit ya berhenti. Bukan berjam-jam. Kalau mau sehat itu enggak perlu berat-berat. Itu malah melampaui batasan."

Ikuti juga InstagramFacebook, dan Twitter dari Skor Indonesia.

Berita Kebugaran Lainnya:

Makanan yang Baik Dikonsumsi sebelum, saat, dan setelah Bersepeda

7 Tips Menghindari Cedera saat Berolahraga

  • Sumber: Detik
  • Tag

    Video

    Komentar

    Berita Terkait

    Bugar

    Sabtu, 22 Mei 2021

    3 Koreografi Lagu KPop yang Cocok untuk Program Turunkan Berat Badan

    Selain menyenangkan, belajar koreografi lagu-lagu KPop juga bisa membantu membakar kalori.

    Bugar

    Minggu, 23 Mei 2021

    4 Teknik Penting untuk Mengatasi Rasa Cemas Berlebihan saat Bertanding, Cocok buat Atlet Pemula

    Mengatasi kecemasan berlebihan menjadi teknik yang harus dipelajari, terutama oleh atlet pemula.

    Terbaru

    Bugar

    Senin, 26 Juli 2021

    6 Bahaya Menggunakan Makeup Kedaluwarsa, Salah Satunya Penuaan Dini

    Alih-alih tampil cantik, kulit Anda justru terancam mengalami penuaan dini jika menggunakan makeup kedaluwarsa.

    Bugar

    Senin, 26 Juli 2021

    8 Penyebab Anosmia, Tidak Hanya karena Covid-19

    Selain karena Covid-19, anosmia ternyata juga bisa disebabkan oleh kondisi lain.

    Bugar

    Senin, 26 Juli 2021

    Studi: Kopi Dapat Menurunkan Risiko Depresi

    Kopi ternyata memiliki dampak positif terhadap depresi.

    Bugar

    Senin, 26 Juli 2021

    Tips Jaga Kebugaran Tubuh saat Pandemi Covid-19 ala Pendiri Predator MMA Indonesia

    Jeremy Meciaz menyebut bahwa olahraga dan adaptasi adalah hal penting di tengah pandemi Covid-19.

    Bugar

    Senin, 26 Juli 2021

    6 Langkah Tidur Nyenyak untuk Menjaga Imun Tubuh

    Berikut Skor.id menyajikan enam langkah untuk mendapatkan tidur yang nyenyak pada malam hari.

    Bugar

    Senin, 26 Juli 2021

    7 Alasan Pentingnya Melakukan Gerakan Push-up Setiap Hari

    Berikut ini Skor.id menyajikan alasan pentingnya melakukan gerakan push-up setiap hari.

    Bugar

    Senin, 26 Juli 2021

    Makanan yang Banyak Mengandung Omega 3 dan Manfaatnya

    Apakah anda sering mendengar tentang asam lemak Omega 3? Omega 3 memiliki kandungan yang baik bagi kesehatan tubuh.

    Bugar

    Senin, 26 Juli 2021

    Fakta Minuman Isotonik: Bermanfaat Bagi Tubuh tapi Jangan Dikonsumsi Berlebihan!

    Mengonsumsi minuman isotonik terbukti dapat menambah energi ketika berolahraga.

    Bugar

    Minggu, 25 Juli 2021

    10 Manfaat Memakan Bawang Mentah untuk Kesehatan

    Bawang bukan hanya sekadar menjadi bumbu dapur dan penyedap rasa. Tetapi, bawang juga baik untuk kesehatan

    Bugar

    Minggu, 25 Juli 2021

    Manfaat dan Cara Cuci Hidung untuk Cegah Virus Berkembang Biak

    Tak hanya dapat mengurangi gejala anosmia pada penderita Covid-19, mencuci hidung juga memiliki manfaat bagi orang sehat.

    Terpopuler

    Keyword Populer

    Sepak Pojok

    X